Serangan Balas Dendam AS Menargetkan Pasukan Iran dan Afiliasinya, Menggunakan 125 Amunisi Presisi – Berita Prianga

Serangan Balas Dendam AS Menargetkan Pasukan Iran dan Afiliasinya, Menggunakan 125 Amunisi Presisi – Berita Prianga

Aksi balasan Amerika Serikat (AS) di Irak dan Suriah telah dilakukan dengan menargetkan Pasukan Quds IRGC Iran dan kelompok afiliasinya. Serangan udara yang baru-baru ini terjadi melibatkan pesawat pengebom jarak jauh dan menghantam lebih dari 85 target yang ditentukan. Dalam serangan ini, militer AS menggunakan 125 amunisi presisi yang akurat.

Serangan ini merupakan bentuk balasan terhadap serangan drone yang sebelumnya terjadi di pangkalan Amerika di Yordania. Dalam serangan drone tersebut, tiga tentara AS tewas dan lebih dari 40 lainnya mengalami luka-luka yang cukup serius. Fasilitas yang menjadi target serangan ini termasuk pusat operasi komando dan kendali, pusat intelijen, roket dan rudal, serta tempat penyimpanan kendaraan udara tak berawak.

Serangan ini menandai awal dari serangkaian serangan yang lebih besar yang akan dilakukan oleh AS terhadap para milisi yang didukung oleh Teheran. Sebelumnya, serangan drone di Yordania dilakukan oleh Kelompok Perlawanan Islam di Irak sebagai protes atas dukungan Amerika dalam pengeboman yang terjadi di Gaza.

Serangan balasan AS diperkirakan akan berlangsung selama beberapa hari ke depan. Namun, Presiden Joe Biden masih berusaha untuk menghindari terjadinya perang yang lebih luas dengan Iran. Langkah-langkah yang diambil oleh AS ini diharapkan dapat memberikan sinyal yang jelas kepada Iran dan kelompok-kelompok yang terafiliasi dengan mereka bahwa serangkaian serangan tersebut adalah konsekuensi atas tindakan mereka yang dianggap sebagai ancaman terhadap kepentingan dan keamanan AS.

Dalam suasana yang tegang ini, dunia internasional terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah. Respon dari Iran dan kelompok-kelompok milisi yang terkait dengan mereka akan menjadi faktor kunci untuk menentukan arah peristiwa selanjutnya. Tantangan selanjutnya bagi Presiden Biden adalah bagaimana menjaga stabilitas wilayah tersebut dan mempertahankan kepentingan nasional AS tanpa melibatkan diri dalam konflik yang lebih luas dan berpotensi membahayakan keamanan dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *