Penyerap iklim untuk ratusan pulau di Indonesia

“Setahun yang lalu kami menanam mangrove langsung di tebing-tebing Pulau Tolop Kecil. Hari ini, tebing sudah pindah 2 hingga 4 meter ke daratan, ” memberi tahu Tempo Kepala Daerah Kepulauan Riau, Yudi Admaji.

Dari 166 pulau kecil di kepulauan ini yang terletak di pintu masuk pelabuhan besar Singapura, beberapa di antaranya terancam tenggelam lumbung. Meningkatnya angin kencang dan hujan dikombinasikan dengan lalu lintas kapal kargo yang konstan menyebabkan gelombang besar menabrak tebing.

“Tolop Kecil harus dilindungi sebagai prioritas, karena merupakan pulau terminal yang membatasi perbatasan laut antara Indonesia dan Singapura”, Yudi bersikeras.

Selama dua puluh tahun, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Maritim telah mempelajari keadaan 19 dari 111 pulau terminal kepulauan Indonesia dengan menggunakan data satelit Landsat 7, Landsat 8 dan Sentinel 2.. Tujuannya adalah untuk mengetahui kerentanan pulau-pulau kecil ini dalam menghadapi krisis iklim.

Pulau “diidentifikasi”

“Dengan menggunakan software CoastSat dan Quantum Geographic Information System untuk mengolah data aktivitas pesisir di wilayah kepulauan, hasilnya menunjukkan rata-rata pengurangan luas pulau-pulau kecil adalah 5,08459%,” laporan Tempo. Namun tidak menutup kemungkinan banyak pulau-pulau kecil lainnya yang terancam atau bahkan sudah hilang, karena karena tidak berpenghuni atau tidak terdaftar, tidak masuk dalam database Pusat Penanggulangan Bencana Nasional.

Pada pertanyaan dari Tempo, Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan Antam Novambar menjawab secara tertulis: Dari 17.504 pulau di Indonesia, hanya 16.771 yang akan terdaftar di PBB pada tahun 2020. Sisanya masih dalam proses identifikasi.”

Dalam laporan setebal 3.675 halaman, Edvin Aldrian, pemimpin gugus tugas, menunjukkan bahwa program untuk melindungi pulau-pulau ini dari abrasi seringkali kontraproduktif: “Seperti membangun tanggul dengan mengorbankan mangrove atau terumbu karang.”

Tempo menambahkan bahwa bencana tidak hanya mempengaruhi pulau-pulau kecil: “Menurut penelitian Heri Andreas dari Institut Teknologi Bandung, 112 kota juga berisiko, seperti Desa Seni Kabupaten Demak. [sur la côte nord de Java]yang sudah terendam sejauh 2 kilometer oleh laut, dan Desa Semut yang langsung ditelan air.”

READ  Sensor. Film Verhoeven "Benedetta" dilarang di Rusia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.