Mekanisme baru untuk pembangkitan tsunami

Tiga peneliti dan seorang insinyur dari Laboratorium Geologi ENS (LGENS/CNRS/ENS), bekerja sama dengan kelompok internasional (Amerika, Belanda dan Indonesia) mempresentasikan sebuah penelitian di jurnal tersebut. Jurnal Geofisika Internasionalpengamatan yang memvalidasi mekanisme baru untuk menghasilkan Tsunami destruktif, yang dapat terjadi tidak hanya di sekitar zona subduksi, tetapi juga di dekat sesar mendatar.

Kita tahu bahwa tsunami berbahaya pada prinsipnya dihasilkan oleh gempa bumi besar di zona subduksi karena menyebabkan perpindahan vertikal dasar laut. Namun, pada tahun 2018, Indonesia merupakan gempa bumi berukuran sedang (Mw 7,5) pada sesar geser lateral yang menyebabkan tsunami dahsyat bagi kota Palu. Mekanisme bagaimana tsunami ini berasal dari gempa bumi seperti itu masih menjadi bahan perdebatan.

Dalam studi tersebut, tim ilmuwan menyajikan data gerakan tanah dari stasiun GPS jarak dekat yang menunjukkan bahwa retakan yang terkait dengan gempa merambat pada kecepatan yang lebih besar daripada kecepatan gelombang geser di lingkungan menengah. Fenomena langka ini disebut “supershear” pecah. Para peneliti kemudian mempelajari efek dari jeda yang sangat cepat ini pada pembangkitan tsunami dengan menghubungkan gerakan tanah yang diamati dengan model gelombang satu dimensi non-linier di perairan dangkal dengan profil batimetri lokal Teluk Palu (Indonesia) di sekitar pasang surut. stasiun pengukur. Simulasi mereka mereproduksi kedatangan dan pergerakan tsunami yang diamati oleh kamera CCTV. Mereka menyimpulkan bahwa front Mach (atau guncangan), yang dihasilkan oleh kecepatan retakan, berinteraksi dengan batimetri dan berkontribusi terhadap tsunami.

Hasil ini menunjukkan bahwa kecepatan pecah gempa bumi, dan bukan hanya mekanismenya, harus dipertimbangkan dalam penilaian risiko tsunami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.