Indonesia: Anggota keluarga menguburkan korban kecelakaan pesawat Sriwijaya Boeing

Teman dan anggota keluarga yang menangis mengubur sisa-sisa seorang pramugari berusia 29 tahun di Jakarta pada hari Kamis, seorang pramugari yang mengalami kecelakaan Boeing yang jatuh di lepas pantai Indonesia pada hari Sabtu.

Okky Bisma adalah korban pertama yang identitasnya dipastikan usai bencana. Sidik jari salah satu tangannya yang ditemukan oleh penyelam dibandingkan dengan database pemerintah untuk identifikasi ini.

Boeing 737-500 milik Sriwijaya Air memiliki 62 orang di dalamnya ketika jatuh ke Laut Jawa beberapa menit setelah lepas landas dalam kecelakaan yang masih belum dapat dijelaskan dari ibu kota Indonesia, Jakarta.

Sedikitnya lima korban lainnya diidentifikasi setelah dia ketika penyidik ‚Äč‚Äčterus menyelidiki sisa-sisa manusia yang ditemukan di laut di antara puing-puing dan potongan badan pesawat.

Mereka mengambil sampel DNA dari kerabat korban untuk memudahkan pekerjaan identifikasi.

Aldha Refa, istri pramugari Okky Bisma, yang meninggal dalam kecelakaan Boeing yang membawa 62 orang, berduka di makam suaminya saat pemakaman di Jakarta pada 14 Januari 2021 (AFP – BAY ISMOYO)

Di pemakaman, istri Okky Bisma, Aldha Refa, memegang potret almarhum di hadapannya dan menyebarkan kelopak bunga di tanah kuburannya.

“Istirahatlah dengan damai di sana sayangku dan tunggu aku (…) di surga”, tulisnya di akun Instagram-nya minggu ini. “Terima kasih telah menjadi pria yang sempurna ketika Anda berada di bumi.”

Tradisi pemakaman di Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, menyerukan penguburan segera.

Tetapi pekerjaan identifikasi masih bisa memakan waktu berminggu-minggu, yang memperpanjang penderitaan keluarga.

Keluarga Okky Bisma putus asa untuk memulihkan lebih banyak jenazah pria yang hilang dan memutuskan untuk melanjutkan pemakaman, kata ayahnya, Supeno Hendy Kiswanto.

READ  Fondasi pertama berhasil dipasang di Hornsea 2

Hari ini kami berduka, tapi kami percaya kepada Allah atas apa yang terjadi, katanya saat upacara.

“Kematian ada di tangan Tuhan,” tambahnya, menyerukan doa.

Para penyelam pada hari Kamis terus mencari salah satu kotak hitam perangkat tabrakan dalam upaya untuk memahami asal-usul bencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *