BCL Dicibir Warganet karena Menikah Lagi – Mengapa Serba Salah Menjadi Janda di Mata Masyarakat?

BCL Dicibir Warganet karena Menikah Lagi – Mengapa Serba Salah Menjadi Janda di Mata Masyarakat?

Bunga Citra Lestari menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah kabar pernikahannya dengan Tiko Aryawardhana mencuat. Namun, tidak semua warganet memberikan dukungan dan simpati atas keputusan Bunga Citra Lestari tersebut. Sebaliknya, banyak dari mereka yang mencibirnya karena dianggap tidak menepati janji untuk setia kepada almarhum mantan suaminya, Ashraf Sinclair.

Hal ini menunjukkan bahwa sebagai perempuan, menjadi janda sangatlah sulit. Ketua Komnas Perempuan, Andy Yentriyani, mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh konstruksi gender yang menjadikan perempuan sebagai “lambang kesetiaan”. Padahal, baik perempuan maupun laki-laki berhak melanjutkan hidup mereka, terlepas dari status mereka sebagai janda atau duda.

Cibiran terhadap janda seringkali muncul karena ekspektasi masyarakat yang mengharapkan perempuan harus tetap setia pada pasangannya, sementara hal yang sama tidak berlaku bagi laki-laki. Akibat dari konstruksi gender yang keliru ini, menjadi janda sangatlah sulit bagi perempuan, karena mereka seringkali dikecam dan dihakimi oleh masyarakat.

Kondisi ini juga dialami oleh beberapa anggota komunitas #SaveJanda, yang mengalami penolakan dan pertanyaan negatif ketika memutuskan untuk menikah lagi setelah ditinggal mati pasangannya. Media juga turut berperan dalam menciptakan citra negatif terhadap janda, dengan memberikan label-label negatif seperti “janda gatel” atau “janda gambreng”.

Akademisi Yuliyanto Budi Setiawan menjelaskan bahwa pandangan sinis dan pelabelan negatif terhadap janda sudah ada sejak lama. Hal ini membuat segala tindakan yang dilakukan oleh janda selalu dianggap salah oleh masyarakat.

Melalui artikel ini, kita melihat pengalaman Bunga Citra Lestari sebagai janda dan seiring itu, mencermati permasalahan yang dihadapi oleh janda secara umum. Selain itu, kita juga mencermati ekspektasi yang berlebihan dari masyarakat terhadap perempuan yang menjadi janda. Semoga dengan menyingkap isu ini, masyarakat dapat lebih memahami dan menghargai hak hidup bagi para janda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *