Akhir dari “salju abadi” dari gletser tropis terakhir di Papua Indonesia

Akhir dari “salju abadi” dari gletser tropis terakhir di Papua Indonesia

Dijuluki wilayah penutup es tropis “salju abadi” di puncak Puncak Jaya, Papua, menurun 98% dari 19,3 km2 pada tahun 1850 hanya 0,34 km2 pada tahun 2020.

Donald S. Permana, koordinator penelitian di Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Indonesia (BMKG), menulis dalam Tempo Alquran yang ditemukan timnya pada awal 2021, berdasarkan foto udara, bahwa ketebalan es telah menyusut 12,5 meter lagi sejak November 2016, setara dengan 2,5 meter per tahun.

“Kami menggunakan pemodelan Cordex-Sea dan data pengamatan untuk memprediksi kehilangan tutupan es berdasarkan proyeksi iklim di masa depan. Akibatnya, lapisan es di puncak Puncak Jaya diperkirakan akan hilang pada tahun 2026. Tetapi tingkat penipisan gletser bisa lebih buruk lagi. Gletser bisa menghilang sepenuhnya pada tahun 2024. Risiko ini semakin besar karena El Niño, yang menghangatkan iklim Bumi, bisa kembali tahun ini.”

Begitu banyak kesimpulan yang dikonfirmasi oleh State University of Ohio, di Amerika Serikat, yang bekerja sama dengan BMKG.

Tempat suci

Puncak Jaya (Puncak Jaya) mencapai 4.884 meter di Papua Indonesia.“puncak enak”) adalah gletser tropis terakhir di Pasifik barat. Selain dampak pemanasan global, peneliti menjelaskan hal itu “Berkurangnya luas lapisan es menyebabkan bertambahnya luas batuan berwarna gelap di sekitar es. Batuan gelap yang terbuka ini menyerap lebih banyak panas daripada permukaan es dan karenanya mempercepat pencairan.”

Mencairnya lapisan es ini akan berkontribusi pada kenaikan permukaan laut di kawasan Asia Tenggara, yang lajunya jauh lebih tinggi dari rata-rata global. Dan untuk masyarakat asli Papua, itu “salju abadi” adalah tempat suci. Hilangnya dia tentu akan mempengaruhi budaya mereka yang sudah digerogoti oleh pusat kekuasaan Jakarta.

READ  "Blackpink the Movie" akan dirilis pada bulan Agustus dalam rangka tahun ke-5 keberadaan grup ini

Dua tahun lalu, peneliti sudah membunyikan alarm. Bebas. “Menurut kami, kepunahan es di puncak Puncak Jaya tidak bisa dihindari selama pemanasan global akibat pembakaran bahan bakar fosil terus berlangsung,” tegas Permana lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *