Tradisi Nyangku Disambut Antusias Masyarakat Panjalu

Hits: 13

CIAMIS – Masyarakat di Kecamatan Panjalu dan sekitarnya beramai-ramai menuju Alun-Alun Boros Ngora hanya ingin menyaksikan Festival Budaya Panjalu 2018, dalam rangka menyambut Nyangku.

Walaupun diguyur hujan masyarakat sekitaran Panjalu, tetap saja berduyun-duyun menuju ketempat dimana semua adat budaya sunda Panjalu itu akan ditampilkan disana.

“Walaupun saya tetap memaksakan kesini, karena adat budaya ini yang dinantikan setiap warga Panjalu dan sekitarnya,” ujar salah satu warga Ketrabraya, Desa Kertamandala, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis Enjang Ozos, saat ditemui PrianganNews, Senin (3/12).

Dalam Pagelaran tersebut, ada beberapa pagelaran yang ditampilkan oleh panitia penyelenggara diantaranya, pagelaran Wayang Landung yang merupakan adat Budaya Panjalu, Pencak Silat serta Debus.

Tidak banyak tradisi adat warisan nenek moyang yang masih dilakukan dan dilestarikan masyarakat. Apakah itu karena faktor biaya, waktu, atau karena makin berkurangnya orang yang mengerti akan tradisi adat.

Salah satu tradisi adat yang masih terjaga dan secara rutin dilakukan adalah Upacara Adat Nyangku. Tradisi yang telah turun temurun dilakukan masyarakat Panjalu kabupaten Ciamis untuk menghormati Prabu sanghyang Borosngora, Raja Sunda pertama yang memeluk agama Islam.

Upacara ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat setempat atas masuknya ajaran Islam yang dibawa raja tersebut. Oleh karena itu, tradisi ini diadakan setiap bulan Maulid minggu keempat. Inti dalam ritual ini adalah pembersihan benda-benda pusaka yang dimiliki oleh Kerajaan Panjalu.

Upacara Nyangku dimulai dengan mengeluarkan benda-benda pusaka dari Bumi Alit (tempat penyimpanan benda-benda pusaka) dan diarak dengan cara digendong oleh para keturunan Raja Panjalu menuju Nusa Gede. Pulau kecil di tengah-tengah Situ Lengkong tersebut merupakan makam Prabu Borosngora. Dari sana, benda-benda pusaka kemudian dibawa ke alun-alun.

Semua pusaka dibersihkan dengan menggunakan air dari beberapa mata air yang telah dikumpulkan dari berbagai daerah seperti Gunung Bitug di Majalengka, Cilengkong Panjalu, Desa Bahara, Cibungir, Sindang Barang, Cilimus, Gunung Syawal dan Ciomas beberapa minggu sebelumnya. Setelah dibersihkan pusaka kemudian dibungkus oleh kain putih dan diarak kembali ke Bumi Alit.

Upacara Adat Nyangku memiliki makna “Nyaangan Laku” yang tersirat dalam kata nyangku. Prosesi nyangku di Panjalu ini bentuknya hampir sama dengan Pajang Jimat di Cirebon atau upacara serupa di Daerah lain. (Boy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: