Kasus Perceraian Akibat KDRT di Ciamis Alami Peningkatan

Hits: 93

CIAMIS – Jumlah kasus perceraian yang diakibatkan oleh Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang tercatat di Pengadilan Agama Kabupaten Ciamis, pada pertengahan tahun 2018 ini, mengalami peningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Tahun ini cukup mengalami peningkatan yang drastis. Selama tahun 2017 lalu, hanya terdapat 1 kasus, sedangkan di tahun 2018 ini baru sampai bulan Juli sudah mencapai 14 kasus,” ujar Humas Hakim Pengadilan Agama Ciamis kelas 1A Drs. Ahmad Sanusi SH MH, Kamis (9/8) saat ditemui diruang kerjanya.

Ahmad mengatakan, kasus KDRT ini didominasi cerai gugat yang paling banyak dilayangkan pihak istri. Biasanya kasus KDRT dibuktikan oleh visum.

“Sehingga yang namanya warga biasa saat kejadian KDRT berlangsung, yang terpikirkan hanya melakukan visum di rumah sakit,” katanya.

Ahmad mengungkapkan, dengan meningkatnya angka perceraian, tentu menjadi hal yang memprihatinkan. Padahal, Pengadilan Agama selalu berupaya semaksimal mungkin untuk mencegah terjadinya perceraian, baik cerai gugat maupun cerai talak. Setiap hakim selalu menawarkan perdamaian di setiap awal sidang.

“Hakim wajib menanyakan alasan si penggugat tujuanya bercerai, hakim juga wajib mengarahkan ke jalan damai,” ungkapnya.

Menurut Ahmad, dari beberapa kasus yang ditangani oleh Pengadilan Agama selama ini, kasus KDRT yang paling mendominasi angka perceraian di Ciamis menjadi semakin tinggi.

KDRT disebabkan oleh berbagai faktor, yakni adanya orang ketiga dalam keluarga. Suami atau istri sering cek-cok akibat adanya kecurigaan,
kondisi ekonomi keluarga, sering memicu terjadinya KDRT dalam rumah tangga, miskomunikasi dan pola asuh juga menjadi faktor penyebab terjadinya KDRT dalam rumah tangga.

“Kemungkinan masih banyak yang menyembunyikan kasus KDRT yang dialaminya, namun dikarenakan karakter masyarakat kita lebih banyak enggan mengungkap aibnya sendiri. Sehingga mereka lebih tidak melaporkan kasus yang dialaminya,” ucapnya.

Ahmad menyarankan, jika terjadi perselisihan dalam rumah tangga sebaiknya diselesaikan dengan komunikasi dan dialog. Komunikasi serta rasa saling menghormati akan mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga.

Jika komunikasi sulit terjalin lanjut dia, pasangan suami istri bisa meminta pihak ketiga yang bisa dipercaya. Pihak ketiga tersebut juga bisa merupakan konsultan pernikahan yang ahli.

“Lebih utama adalah menjunjung tinggi nilai luhur dalam membangun rumah tangga adalah memegang prinsip agama, selain itu tak kalah penting adalah komunikasi dan menjalankan hak maupun kewajibannya,” pungkasnya. (AS/Tantan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: