Gelombang Tinggi Mengakibatkan 5 Kecamatan Di Garut Merugi Ratusan Juta Rupiah

GARUT – Gelombang tinggi yang mencapai 4 sampai 5 meter di pesisir Pantai selatan Kabupaten Garut, mengakibatkan Puluhan rumah rusak serta merendam Puluhan Desa dari 5 Kecamatan yang berada di pesisir pantai.

Dampak dari gelombang tersebut, membuat masyarakat dari 5 Kecamatan itu merugi materi yang mencapai ratusan juta.

Camat Cikelet Kabupaten Garut Iwan Trisnadiwan mengatakan, saat datang gelombang tinggi yang menerjang Pantai Selatan, warga tidak sempat untuk menyelamatkan barang barang miliknya. Sehingga banyak warga yang mengalami kerugian, karena harta miliknya rusak dan hilang dihantam air laut.

Baca : Cuaca Ekstrem di Garut, Ruddy : Warga di Pesisir Pantai Agar Tetap Waspada

Baca : Akibat Gelombang Tinggi Warga Pesisir Pantai Rancabuaya Mengungsi

Baca : Antisipasi Gelombang Tinggi, Basarnas Bandung Siaga Di Rancabuaya

“Akibat musibah tersebut, sebagian warga di kecamatan Cikelet, terpaksa memilih untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Seperti, posko-posko yang sudah didirikan oleh Pemerintah,” ujaranya saat ditemui PrianganNews, Kamis (26/7).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, saat ini telah melakukan pendataan, menginventarisir kerusakan dan kerugian warga yang terdampak bencana.

Namun untuk laporan sementara dari BPBD Garut, kerusakan yang terjadi ada di 5 Kecamatan, yakni Kecamatan Cibalong 7 rumah rusak berat, 6 kolam ikan, 1 unit perahu dan 13 hektar sawah rusak berat.

Sementara di Kecamatan Pameungpeuk 1 pos pantau dan 8 gazebo hancur. Untuk wilayah Kecamatan Cikelet, 8 warung hancur, 21 rumah rusak ringan, 5 rumah rusak sedang, 4 rumah rusak berat.

Kecamatan Pakejeng, 4 gazebo rusak berat dan untuk Kecamatan Caringin Pantai Rancabuaya, ada 2 rumah rusak berat, warung rusak ringan serta 40 gazebo rusak berat.

Saat ini BPBD bersama Pemerintah setempat dibantu warga, sedang melakukan gotong royong untuk membersihkan wilayah yang terkena banjir.

Namun pihak BPBD pun tetap menghimbau, agar warga jangan dulu melakukan aktivitas di pantai, terutama para nelayan. (Jank/Tantan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *