Direksi SMC Bantah Lalaikan Prosedur Penanganan Pasien

Hits: 54

Tasikmalaya – Direksi RS Singaparna Medika Citrautama membantah jika lalai dalam penanganan bayi anak pasangan Aripin Makka (44) dan Ai Tati Nurhayati (40), warga Balananjeur Desa Pagersari, Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya. Pemberian pelayanan kesehatan diklaim sudah sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku.

Kabid Kemedikan RS SMC dr. Iman Firmansyah didampingi dokter umum dr. Yakin menuturkan, kondisi bayi datang dalam kondisi kejang, pernafasan terganggu dan sudah membiru pada Jumat (15/6) saat dirujuk ke RS SMC. Padahal sebelumnya, pihak SMC mengatakan ruangan untuk perawatan dalam kondisi penuh.

“Sebelumnya pihak Puskesmas menelepon, tapi kami sebutkan bahwa ruangan penuh. Tapi akhirnya mereka tetap merujuk dan kami rawat. Di IGD juga diberikan penanganan sesuai aturan, diantaranya pemberian infuse dan obat anti kejang,“ papar Iman yang ditemui diruangannya, Senin (25/6).

Setelah bayi dalam kondisi stabil lanjut Iman, pihak rumah sakit langsung membawa ke ruang ICU. Karena kondisi ruangan penuh, bayi tersebut disatukan dengan bayi lainnya di Incubator.

“Di ICU itu kondisi bayi semakin menurun, tiap jam semakin menurun dan perkembangan itu selalu diberikan informasi kepada keluarga pasien dan keluarga pasien saat itu cukup mengerti. Berdasarkan rujukan dokter spesialis, petugas memberikan antibiotic dan anti kejang karena bayi kejang terus menerus,“ papar Iman.

Karena kondisi semakin menurun, akhirnya pada Sabtu (16/6) pukul 04.00 WIB terjadinya penurunan kondisi yakni sempat terjadi berhenti bernafas dan dilakukan tindakan RDP atau resusitasi oleh petugas. Dalam kondisi itu lanjut Iman, petugas memberikan informasi kepada keluarga pasien yakni kepada Bapak dan Ibu Bayi tersebut.

“Satu jam kemudian petugas kami sudah menawarkan kepada keluarga pasien untuk terus melakukan RPD dan Resusitasi dalam kondisi berhenti bernafas dan berhenti jantung, atas izin keluarga akhirnya di stop,“ papar Iman.

Sementara disinggung soal penyebab kematian bayi, Iman menduga bayi tersebut mengalami infeksi sepsis atau infeksi seluruh tubuh bayi. Hal itu bisa terjadi berbagai macam sebab diantaranya masuknya cairan ke dalam tubuh bayi yang barasal dari kotoran atau air ketuban saat melahirkan.

“Nah kalau ada muntahan itu, kalau di kami SOPnya kondisi pasien menurun tidak diberi makanan artinya puasa, hanya diberikan asupan infuse. Kemungkinan disaat dilakukan Resusitasi kan ditekan rongga dada, akhirnya cairan yang masuk keluar,“ pungkas Iman. (I.V/Tantan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: