Warga Ciomas Panjalu Gelar Tradisi Nyepuh

Hits: 40

Foto : (Dok. Disbudpora)

Ciamis, (PrianganNews.com) – Dalam upaya membersihkan diri sebelum memasuki Bulan Suci Ramadhan, Warga Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, menggelar tradisi Nyepuh. Bagi warga, Upacara Nyepuh sendiri yakni ritual sakral yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Tak hanya saat upacara berlangsung, segala persiapan sebelum upacara pun wajib dijalankan dengan benar.

Dalam Upacara Nyepuh, penduduk Ciomas selalu membuat tiga buah nasi tumpeng. Tumpeng dibuat sebagai symbol kebersamaan dan kegotongroyongan warga setempat. Kendati begitu, sebelum dimasak, bahan-bahan yang akan digunakan harus diperiksa terlebih dahulu. Para Tetua kampung bertugas memeriksa seluruh bahan yang akan dimasak, apbila ada bahan yang diyakini tidak halal atau telah kedaluwarsa, maka barang tersebut harus disingkirkan.

Dapur yang akan digunakan untuk memasak makanan pun tak lepas dari pengawasan para Tetua. Maklum, sejumlah persyaratan harus dipatuhi. Terutama penggunaan kayu bakar dan air. Tidak kalah penting yang perlu diperhatikan, air untuk memasak haruslah diambil dari mata air di gunung.

Makna pemeriksaan bahan-bahan makanan sebenarnya sesuai dengan Bulan Suci Ramadhan yang saat ini tengah dinanti Umat Muslim. Di Bulan Suci inilah, umat yang menjalankan ibadah puasa diharapkan dapat menjaga segala tingkah lakunya dari perbuatan kotor. Itulah yang diharapkan dari Upacara Nyepuh tersebut.

“Melalui ritual ini, warga Ciomas disadarkan tentang arti menyucikan diri untuk menjadi manusia sempurna yang fitri.” papar Kasi Kesenian Eman Hermansyah, S.Pd., Rabu (2/4/2018).

Masyarakat yang berdiam di Kampung Ciomas itu selalu menyambut datangnya Upacara Nyepuh dengan penuh kebersamaan. Suasana gotong royong terasa kental. Jika orang tua bertanggung jawab terhadap bahan-bahan makanan, para pemuda menyiapkan hiasan-hiasan untuk upacara.

Berbagai jenis atribut yang terbuat dari janur kuning dibuat sedemikian rupa hingga menjadi hiasan yang cantik. Saat membuat hiasan upacara, warga pun disarankan untuk menggunakan lampu templok. Pelita berbahan minyak tanah ini bermakna sebagai penerang kehidupan warga Ciomas.

Puncak Upacara Nyepuh berlangsung di dalam Hutan Karomah. mencapai area hutan, warga yang seluruhnya berpakaian putih-putih sebagai tanda menyucikan diri itu harus berjalan sejauh tiga kilometer.

Salawat dan Do’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dilantunkan sepanjang jalan masuk ke hutan. Sebelum memulai upacara, seorang warga diutus untuk mengambil air Wudhu. Ini sebagai tata cara masuk ke areal pemakaman sekaligus simbol membersihkan diri dari segala kotoran yang melekat di tubuh.

Air suci dari sumur emas pun diambil oleh kuncen dan keluarganya. Air dari sumur ini dipercaya penduduk mempunyai khasiat yang sama dengan air zamzam di Mekah, Arab Saudi. Bila minum atau mandi dengan air ini, dipercaya dapat membawa keberkahan.

Diiringi lantunan salawat dan doa-doa, barisan orang Ciomas itu kemudian memasuki lokasi pemakaman Kiai Haji Penghulu Gusti dan keluarganya. Di depan makam-makam yang dianggap keramat ini, mereka pun menyampaikan keluh-kesahnya. Bagi masyarakat Ciomas, pertemuan di depan makam, ibarat menghadap wakil-wakil rakyat di Gedung Parlemen. Di sinilah saatnya warga bertemu dengan pejabat dan pemimpin desa. Tak jarang, dialog antara anak dan orang tuanya terjadi di depan kuburan sang leluhur tersebut.

Upacara tradisi nyepuh merupakan Tradisi yang sudah berlangsung turun temurun hingga kini masih terus dilestarikan oleh warga setempat. Arti Nyepuh sendiri adalah penyucian diri secara lahir dan batin. Maka tradisi ini digelar saat menjelang bulan ramadhan dengan niat untuk mensucikan diri sebelum memasuki bulan puasa dan sebelum melaksanakan ibadah puasa.

Sementara itu, Ganda warga setempat menuturkan, upacara tradisi nyepuh ini merupakan kegiatan yg positif dalam rangka membersihkan diri, membersikan jiwa yang dimaknai dengan membersihkan situs panghulu gusti penyebar agama Islam dan masyarakat sekitar diwajibkan membuat makanan yg halal bahkan membuat makanan pada acara nyepuh tidak boleh dilakukan oleh perempuan yang sedang menstruasi.

“Peserta yang datang tidak hanya masyarakat kampung panjalu saja melainkan tamu undangan dari Jakarta, Bandung, Kuningan, Cirebon, Tangerang bahkan aja juga tamu berasal dari jawa tengah,“ kata Ganda

Disbudpora selaku Dinas yang salah satunya membidangi bidang kebudayaan mupusti peninggalan warisan kekayaan budaya lokal tradisi daerah merupakan ritual adat nyepuh dan merupakan kalender kebudayaan dilaksanakan di tatar galuh Ciamis setiap tahunnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Ciamis, Max Sofyan mengatakan, dengan adanya upacara adat nyepuh diharapkan bisa memelihara tradisi gotong royong dan tradisi melestraikan lingkungan.

“Cinta kita terhadap lingkungan dengan ditandai simbol penanaman pohon. Dengan adanya ritual nyepuh ini diharapkan dapat membersihkan diri menjelang bulan suci Ramadhan,” harapnya. (Sarip)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: